Sblm cerita tournya, ulas dikit mengenai pesawat A380 yahh…

Ngalamin naik SQ dengan pesawat A380 tentu bukan pengalaman yg bisa gue nikmati sering2. Makanya cukup antusias untuk melihat seperti apa sih kehebatannya. Soalnya coba2 search dibilang ini pesawat komersial terbesar, 2 tingkat, mesinnya buatan Rolls Royce yang daya dorongnya super yahud, tapi yg bikin ngiler katanya nih di atas pesawat ini ada yg sampai disediakan pusat perbelanjaan, tempat bermain anak-anak, dan fasilitas-fasilitas lainya (semua fasilitas ini disediakan sebagai opsi, tergantung pesanan maskapai).

Begitu udah boarding dan mulai masuk ke badan pesawat, aura kemewahan udah mulai terasa. Keliatan banget itu bangku2nya lebih lebar. Sayangnya kita gak dapat di bagian atas. Tapi udah bertekad, begitu udah memungkinkan kita akan bergerilya ke atas. Tapi ternyataaaa…….gak seperti yg kita bayangkan ah. Waktu kita ke kabin atas, yah sama aja…..isinya cuma tempat duduk penumpang dan service area para pramugari. Cuma susunan bangkunya aja yg diperkecil. Kalo di bawah 3-4-3, di atas jadi 2-3-2.

Satu2nya kelebihan yg gue rasakan adalah, waktu kita terbang malam, yang mana cuaca gak terlalu bersahabat, kilat menyambar kanan kiri, itu pesawat bisa tetap terbang dalam kondisi stabil. Selama belasan jam kita terbang, efek turbulence yg biasa kita rasakan kalo naik pesawat berbadan lebih kecil boleh dibilang minim sekali. Padahal keliatan banget di luar itu cuaca lagi jelek banget dan pilot bolak balik kasih reminder utk kembali ke tempat duduk dan pasang seat belt.
Kenyamanan lain yang memang sudah jadi ciri khas SQ tentunya keramahan dari pramugari dan pramugaranya.

Buset deh, kerja mereka gesiiit banget. Seliweran sana sini, tapi gak ada satupun yg keliatannya jutek, walaupun lampu panggilan silih berganti menyala. Sptnya mereka bener2 service penumpang dengan ‘hati’. Udah gitu tawaran makan minum rasanya gak pernah berhenti. Setiap gue melek, ada aja gue liat pramugari/a bolak balik bawa nampan.

Sayang sungguh di sayang, nasib gue kurang beruntung. Dapat tempat duduk di bagian belakang. Dekat WC. Hiksss…..itu dia yg bikin bete. Setiap pintu WC dibuka tutup oleh penumpang yg menggunakan, setiap kali pula aroma nya menghambur keluar. AKhirnya Rudy complain karena gak kebayang kalo 12 jam perjalanan kita mesti menghadapi aroma itu. Entah diapain oleh mereka, belakangan aroma itu gak terasa lagi. Bravo buat SQ.

Secara overall kita gak merasa menyesal milih SQ, walaupun boleh dibilang membuat budget kita membengkak sekitar 15%. Tapi worth it kok untuk suatu rute panjang kayak kita ini. Apalagi liat kelas bisnisnya, bener2 bikin ngeces (mimpi dulu aaaah :)).

Dengan tingkat kenyamanan seperti itu, gue sih cukup bisa tidur di pesawat yah. Gue gak mau dong kalo kurang tidur nanti turun kayak zombie… Lah, kalo liat jadwalnya, begitu turun kita langsung city tour di London. Gak pake ba-bi-bu lagi🙂

Pesawat landed sempurna di Heathrow Airport, London sekitar jam 6 pagi. Dari tempat duduk, liat ke luar dibatasi kaca berembun, yang menandakan udara di luar cukup dingin. Terakhir diinfoin suhu di luar pesawat 7C. Jadi buru2 keluarin jacket yg gue taruh di hand carry, karena gak mau ntar keluar kaget dengan cuaca dingin ini.

Begitu masuk ke bagian dalam airport, kita langsung dikumpulin oleh Donny (TL). Airport Heathrow sendiri jauh dari kesan mewah. Tapi dengan gelar airport tersibuk di Eropa dan tersibuk ketiga di dunia, Heathrow airport patut diacungi jempol untuk urusan kerapihan. Gak ada kesan semrawut dari proses transfer penumpang, pengambilan bagasi dan urusan imigrasi. Semua berjalan lancar.

Kelar urusan imigrasi dan bagasi kita udah ditunggu oleh TL lokal, namanya Calvin. Seorang Chinesse British, umur 40-an. Orangnya lumayan tegas dan strict dan yang paling hebat, bangga banget dengan negaranya🙂
Namanya ikut rombongan tour, ada aja yah peserta aneh2. Udah tau kita ke benua Eropa, dari travel pun udah kasih point2 untuk diperhatikan, termasuk mata uang yg digunakan di negara tujuan. Eh, masih ada lho yang gak mau prepare dengan baik. Bisa2nya ada 1 keluarga yg nanya ke TL kita, di mana mau tukar uang Euro, karena dia gak bawa Euro 1 cent pun, tapi bawanya US$. Ampunnnn deh… emang sih gampang tukar US$ ke Euro. Tapi kan itu membuat peserta lain nungguin mereka untuk nukar ke money changer di Airport😦 Aneh yah….. kok bisa sih sampe secuek itu.

Udah gitu kita diperingati bahwa tiap orang yang membawa cash lebih dari Euro 10.000 (per orang) wajib declare, karena kalo gak akan dipanggil ke ruang interogasi dan diinvestigasi lebih lanjut. Jadi kalo 1 family ada 4 orang, yah maximal bawa cash 40 ribu. Gak tau gimana cara mereka ngeceknya, kalo betul ada yang bawa lebih. Tapi katanya bisa aja di sampling minta dibuka tasnya. Masa sih??? Ada yg tau apa sampe segitunya?

Akhirnya beres juga urusan airport. Kita langsung dibawa Calvin ke bus. ENaknya kalo di Euro ini, mau berapapun peserta tour kita, bus yang disediakan seatnya pasti yang 50 seat. Jadi dengan kapasitas kita cuma 30 an, lumayan nyaman di bus ini. Gak pake empet2an.

Tujuan pertama city tour di London adalah Big Ben. Sepanjang perjalanan kurleb 45 menit dari airport ke tempat tujuan kita disuguhi pemandangan rumah2 khas gaya inggris dengan finishing bata merah. Hebatnya beberapa kompleks perumahan yang kata TL gue usianya udah puluhan tahun, masih terlihat rapi, kinclong dan menawan.

Big Ben adalah sebuah menara jam yang berada 1 kompleks dengan Parliament House (tempat parlemen Inggris bekerja). Big Ben sendiri sebenarnya nama dari lonceng kecil yg menjadi bagian dari si menara yag bernama asli The Tower of Big Ben. Tapi kemudian orang lebih mudah menyebutnya, sehingga menara jam ini kemudian lebih dikenal dengan Big Ben.

Menara ini dibangun sebagai bagian dari rencana pembangunan istana baru oleh Charles Barry, setelah Istana Westminster yang lama telah hancur akibat kebakaran pada malam 22 Oktober 1834. Menara ini tingginya 96.3 meter (316 kaki) dan dibangun dengan gaya Gothik Victoria. (source : wikipedia)

Di belakang Big Ben kita bisa melihat wahana London Eye, sebuah roda pengamatan setinggi 135 meter dan berputar di atas Sungai Thames. Sayang karena tidak termasuk dalam acara tour, kita harus melewati kesempatan untuk melihat dan menikmati London Eye.

Selesai itu kita lanjut ke Tower Bridge. Waktu dapat itinerary bagian London ini, kita sempat bingung, kok adanya rute ke Tower Bridge. Padahal kan yg terkenal London Bridge ya? Sampe2 ada lagunya pan tuh “London Bridge is falling down”. Ternyata, gak heran fakta di lapangannya, London Bridge itu bener2 sangat biasa bila dibandingkan dgn Tower Bridge. Jadi jarang banget org sampe bener2 ke London Bridgenya, krn kalo kita di Tower Bridge pun (yg jauh lebih wah dan megah), kita bisa liat London Bridge juga.

Terus dari Tower Bridge ini juga kita bisa lihat Tower of London (ini gak kita pergiin) yaitu semacam museum or tmpt penyimpanan dari mahkota ratu2 dan keluarga kerajaan Inggris.

Perjalanan lanjut ke Trafalgar Square. Boleh dibilang ini semaca alun2 kota London, dan sering dijadikan lambang ‘kebebasan’ karena di tempat ini sering sekali dijadikan tempat oleh para demonstran ber-unjuk rasa. Tempat ini menjadi makin istimewa, ketika rombongan mempelai Kerajaan Inggris Pangeran William dan Catherine Middleton melalui Trafalgar Square ini untuk menuju Istana Buckingham.
Orang2 rela memasang tenda menginap 1 hari sebelumnya di lapangan ini agar dapat melihat arak2an rombongan ini.

Selesai dari Trafalgar kita digiring ke Westminter Abbey. Gereja yang bernama asli The Collegiate Church of St Peter ini kerap menjadi tempat penobatan raja ratu Inggris, pemberkatan pernikahan, sampai upacara pemakaman. Terakhir yang paling gress adalah pernikahan Pangeran William dan Catherine pada tanggal 29 April 2011.

Gereja ini dibuka untuk para wisatawan setiap hari Senin s.d Sabtu sepanjang tahun. Sedangkan utk hari Minggu dan hari2 besar Kristen lainnya digunakan untuk misa.

Semua tempat itu kelar dikunjungi dalam waktu 1/2 hari. Krn gak lama setelah itu kita digiring untuk Lunch. Memang sebelum berangkat juga udah di infoin bahwa acara makan kita kebanyakan akan makan di resto chinesse, kecuali untuk di kota2 kecil yg mana gak ada resto chinesse akan dikasih makanan lokal. Alasannya karena lidah org Indo akan lebih bisa menerima chinesse food dibandingkan makanan lokal. Tapi kita curiga kalo alasan sebenarnya adalah makanan di resto lokal akan lebih mahal compare dgn chinesse resto🙂

Lunch pertama kita di benua Eropa adalah di suatu resto chinesse bertingkat 2 yang ternyata bangunannya ajubilah sempitnya, karena hanya berukuran sebuah ruko bertingkat, tapi itu tamunya numplek ajubilah.
Apalagi kebanyakan adalah rombongan tour (ini nih gak enaknya pergi di masa high season). Dan kebanyakan dari rombongan tour itu adalah rombongan Indonesia🙂 Dari Panorama aja kita ketemu ada 1 rombongan lain. Total untuk sekali makan gitu ada x ketemu 3-4 rombongan. Kalo masing2 rombongan ada 20-30 orang, kebaynag kan gimana sumpeknya ruko seuprit gitu.

Menunya bagi gue sih not bad lah yah… tapi standard aja. Gue sih yang penting jenis makanannya jelas, gak yang isinya aja entah apaan. Mostly menu2 yg kita dapat di chinesse resto adalah 3 macam lauk, 2 macam sayuran dan buah. Nah 2 macam sayuran ini yg kadang2 bikin kita bete. Saolnya yang namanya itu sayuran tumis, bener2 sayuran cuma ditumis sama minyak aja. Kagak ada aroma bawang2nya, apalagi suiran daging, udang, or telor. Pokoknya polos sepolos2nya. Belum lagi yang sayur kuahnya. Kadang2 sayur apa yang ditumis, yah itu yang disajikan juga as menu sayur kuah🙂 Tapi, gue dong udah bawa perlengkapan perang. Abon, sambal udang kering, sambal belibis komplit gue bawa dan selalu setia menemani hari2 kita di Eropa. Dan ini menjadi menu favorit buat peserta tour lainnya juga. Alhasil 150 sachet sambal, 2 toples abon dan 1 toples udang kering habis hanya dalam waktu setengah perjalanan tour kita (alias seminggu).

Yang lucu ada peserta tour yang family, anaknya makannya so picky, n samsek gak mau nyentuh itu lauk2 yg disajikan. Alhasil ortunya sibuk mesenin telor dadar setiap kali makan. Tau harga telor dadar sepiring (kurleb ukuran 2 butir telor lah)? Hahaaa…..Euro 10 aja, yang mana artinya cepeceng lebih…Wkkkwkkk…mau nangis gak tuh?
Mana kadang saking bosennya tuh anak, di hari ke berapa gitu, pas udah dipesenin telor mahal itu, dia udah gak mau makan lagi. Jadi terpaksa telor mahal itu kita keroyok rame2🙂

To be continued yah….. Abis ini kita lanjut ke Madame Tussaud dan Istana Buckingham. Foto2 juga menyusul di postingan London seri ke 2 yah🙂